Evolusi Persahabatan

logika timbal balik untuk menjaga kelangsungan gen

Evolusi Persahabatan
I

Pernahkah kita rela bangun jam 3 pagi hanya untuk menjemput seorang sahabat di bandara? Padahal, kita tidak dibayar sepeser pun. Mereka juga bukan saudara kandung yang berbagi DNA dengan kita. Kalau dipikir-pikir pakai logika untung-rugi yang kaku, tindakan semacam ini sungguh tidak masuk akal. Lelah, menguras bensin, dan mengorbankan waktu tidur. Namun anehnya, kita tetap melakukannya dengan senang hati. Mengapa kita bisa sangat peduli pada manusia asing yang awalnya tidak kita kenal, namun kebetulan nyambung saat diajak ngobrol? Mari kita mundur sejenak dan melihat persahabatan dari kacamata yang sedikit lebih dingin, tapi ironisnya, justru sangat menghangatkan hati: kacamata biologi evolusioner.

II

Untuk memahami hal ini, kita harus melakukan perjalanan waktu. Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita tidak hidup senyaman kita sekarang. Padang sabana Afrika adalah tempat yang brutal dan tidak kenal ampun. Bayangkan teman-teman hidup di masa itu. Tidak ada polisi yang bisa dipanggil, tidak ada rumah sakit, apalagi ojek online untuk pesan makanan. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup dari intaian predator atau ancaman kelaparan adalah dengan hidup berkelompok. Tapi, hidup berdampingan punya tantangan tersendiri. Siapa yang akan menjaga kita saat kita terkapar sakit demam? Siapa yang rela berbagi hasil buruan saat kita apes dan gagal menangkap mangsa? Di sinilah alam semesta mulai merancang sebuah strategi bertahan hidup yang sangat canggih. Strategi itu tidak menggunakan ketajaman cakar atau racun yang mematikan, melainkan menggunakan sebuah ikatan emosional.

III

Namun, ada sebuah teka-teki biologi yang besar di sini. Evolusi pada dasarnya digerakkan oleh satu hukum utama yang agak egois: insting untuk memastikan gen kitalah yang selamat dan diteruskan ke generasi berikutnya. Kalau kita punya sepotong daging terakhir di musim paceklik, logika murni evolusi menyuruh kita memakannya sendiri. Memberikan makanan itu pada orang lain yang tidak memiliki pertalian darah sepertinya adalah sebuah blunder fatal. Bukankah mengorbankan kenyamanan diri demi kelangsungan hidup orang asing itu melawan hukum alam? Nyatanya, secara historis, manusia purba yang terlalu egois dan menyendiri justru mati lebih cepat. Lalu, apa trik rahasia yang digunakan evolusi untuk membuat kita mau saling membantu tanpa merasa sedang dirugikan?

IV

Jawabannya terletak pada sebuah mekanisme yang disebut oleh para ilmuwan sebagai reciprocal altruism atau altruisme timbal balik. Teman-teman, persahabatan pada hakikatnya adalah sistem asuransi paling kuno di dunia. Otak kita secara diam-diam memiliki buku catatan kas yang tak kasat mata. Saat kita berbagi makanan atau kebaikan dengan seseorang hari ini, kita sebenarnya sedang menanam investasi masa depan. Otak bawah sadar kita berhitung, "Jika besok aku yang gagal berburu, dia yang akan menyelamatkanku dari kelaparan."

Untuk memastikan kita tidak merasa terbebani saat melakukan transaksi saling jaga ini, evolusi meretas sistem saraf kita. Ia menggunakan koktail zat kimia bernama oxytocin dan dopamine. Zat-zat inilah yang menyirami otak kita sehingga kita merasa bahagia, aman, dan tenteram saat nongkrong atau membantu teman. Jadi, rasa sayang luar biasa yang kita rasakan pada sahabat sebenarnya adalah cara evolusi menipu kita dengan sangat indah. Kita dibuat merasa bahagia saat berbuat baik, agar kita mau membangun jaringan pelindung sosial untuk menjaga kelangsungan hidup gen kita sendiri. Kita menyelamatkan teman kita, agar kelak teman kita mau menyelamatkan kita.

V

Mendengar fakta ini mungkin membuat persahabatan terdengar agak pragmatis atau sekadar transaksional belaka. Namun bagi saya, mengetahui bahwa persahabatan punya akar biologis yang sangat purba justru membuatnya terasa jauh lebih magis. Otak kita berevolusi sedemikian rupa untuk menyadari satu kebenaran mutlak: kita tidak akan pernah bisa selamat sendirian. Persahabatan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan puncak dari kecerdasan spesies manusia. Jadi, saat teman-teman mengorbankan waktu tidur demi mendengarkan curhat sahabat atau menjemput mereka di bandara, ingatlah satu hal. Teman-teman tidak hanya sedang menjadi orang yang baik hati. Teman-teman sedang merayakan sebuah warisan genetik berusia ratusan ribu tahun, yang selalu mengingatkan bahwa kelangsungan hidup kita, serta kebahagiaan kita, akan selalu terikat pada manusia lainnya.